Selasa, 03 Januari 2017

My Name Is 'Khan'

My name is 'Khan'

Sekolah adalah tempat dimana aku mengadu nasib. Kali saja aku bisa menjadi seperti Chairul Tanjung, 'Si Anak Singkong', atau Dahlan Iskan dengan sepatu bututnya. Berbekal seragam sumbangan, sepatu bekas dan tas karung goni, serta sepeda peninggalan bapakku, aku berangkat.
Berteman embun pagi, ku kayuhkan sepeda tuaku ke sekolah. Kriett..kriett... bunyi rantai tua yang saling bergesekan, padahal setiap saat aku memberikannya oli. Jarak 15 km itu cukup melelahkan bagiku, namun tidak cukup lelah ketika aku membayangkan wajah ibuku yang setiap saat memerangi matahari yang membakar kulit rentanya. Mulianya malaikatku ini, ia masih sempat berkata 'sekolahlah yang tinggi nak demi kita, ibu akan memperjuangkannya, jika kau tak sukses mau jadi apa kita menghadapi dunia yang keras ini'. Kata-kata
itu selalu kuingat dan ku tanamkan di jiwaku ketika aku mulai lelah. Tak sadar sudah satu jam perjalanan dari rumahku. Sekarang aku telah berdiri di hadapan gerbang sekolahku. MA Salman Al-Farisi, sekolah tengah kota yang berbasis Islam. Aku beruntung dapat masuk di sekolah ini berbekal beasiswa. Ku tuntun sepeda tuaku memasuki gerbang, dan memarkirkannya di lapangan belakang. Beberapa siswa yang ku kenal menyapaku. Beruntungnya aku, mereka tak membedakanku.

"Pagi Khan!" Aku hanya tersenyum membalas sapaan salah satu teman kelasku. Baru saja ku duduk, seorang gadis menghampiriku.

"Hai Khan, ini spesial aku yang bikin!" Aisha, gadis yang telah menjadi sahabatku sejak awal. Dia selalu membawakanku bekal setiap harinya, hal yang tak pernah bisa aku rasakan setiap paginya.

"Tak usah Ais, aku tak enak!" Tolakku sopan.

"Khan, demi ibumu, makanlah! Katanya kau mau sukses? Kalau tak ada tenaga mana bisa jadi?" Selalu itu yang ia katakan untuk membujukku, dia tau kelemahanku rupanya. Walau keluarganya adalah donatur terbesar sekolah ini, ia tak sungkan berteman denganku, bahkan keluarganyapun baik padaku. Bel masuk pun berbunyi, kami bergegas duduk di bangku masing-masing.

"Arkhan Adiguna" panggil guruku setelah kami menyelesaikan doa pagi bersama. Aku pun bergegas maju ke depan.

"Ya, ada apa Bu?"

"Kamu dikirim oleh sekolah untuk mengikuti olimpiade internasional di Jerman, pihak sekolah telah merekomendasikanmu untuk mengikuti tes penyeleksian di Jakarta, ibu harap kamu berusaha semaksimal mungkin, Khan!" Aku, bahkan seluruh kelas terkejut. Ke Jerman? Melihat kota besar saja aku hanya bisa bermimpi. Aku hanya menganggukkan kepala. 'Allah akan memudahkan jalan siapapun yang berusaha Khan!' kata-kata ibuku terngiang bagai motivasi tersendiri untukku.

"Wah hebat, Khan! Semangat!"

"Doakan Ais!" Kulihat ia menganggukkan kepalanya semangat.

Sepulang sekolah, aku mengabarkan kabar baik itu pada ibuku dan meminta doa darinya. 'ibu mana yang tak mendoakan anaknya, Khan!' itu yang beliau ucapkan ketika aku meminta doa darinya. Mulai saat itu juga, aku belajar dan belajar. Tak peduli lagi beberapa buku yang ku lahap demi kesuksesanku. Aisha dan teman sekelasku membantu menyumbangkan buku-buku mereka, aku terharu untuk mereka.

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Jakarta. Aku dengan diantar oleh salah satu guruku, Pak Adi berangkat menggunakan pesawat yang didanai pemerintah. Teman-temanku mengantarkan hingga bandara di kota besar provinsi kami.

"Semoga sukses, Khan!" Teriak teman-temanku. Aku mengacungkan jempol ku untuk mereka.

Esoknya, kami telah menapakkan kaki di tanah ibukota. Aku terkagum dengan bangunan-bangunan megah rancangan arsitek terkenal. Kami telah disambut di sebuah hotel mewah. Aku merasa seperti bermimpi, ini ternyata rupa kota besar. Esok hari, aku harus bersaing dengan ratusan peserta terpilih dari Nusantara. Duduk di ruang tes, menghadapi banyak orang cerdas, aku sangat gemetar. Rupa mereka bening dan bersih, tak sepertiku kumal dan lusuh. Padahal baju terbaikku yang aku pilih. Aku ingat pesan ibu malam sebelum keberangkatanku, "Kamu hanya memiliki dua modal nak, doa ibu dan warga sekolahmu serta tekadmu! Jangan biarkan rasa pesimismu mengalahkan modalmu!". Bismillahirrahmanirrahim. Ku mulai mengerjakan soal-soal yang ada di depanku. Waktunya hanya dua jam pada setiap mata pelajaran. Mata pelajaran yang diujikan adalah IPA, IPS, Matematika dan Bahasa Inggris. Dan setiap selesai satu mata pelajaran diberi istirahat tiga puluh menit. Sepuluh jam telah berlalu, aku telah berada di hotel. Ku ambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Ashar. Aku sudah bertawakkal apapun hasilnya pada Allah.


Keesokan harinya, kami semua pun menuju ballroom hotel, tempat diumumkannya hasil seleksi. Jantungku berdegup begitu kerasnya hingga aku tidak dapat merasakan rasa apapun selain gugup saat ini. Keringat dingin membasahi tubuhku. Dan alangkah terkejutnya aku karena terpilih mewakili Indonesia mengikuti Olimpiade Matematika Internasional di Berlin, Jerman tiga bulan lagi.


Enam tahun kemudian....

"My name is 'Khan'" Ku tatap wajah lelaki berambut putih ini. Wajah yang enam tahun lalu telah menyemangatiku dan telah merekomendasikanku untuk mengikuti seleksi Olimpiade Internasional di Jerman. Ya, pada akhirnya aku berhasil memenangkan olimpiade itu dan mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Jerman.

"Arkhan Adiguna?" Bibir yang dulu sekali menjadi api penyemangatnya menyunggingkan senyuman lebar. Ia sama tidak menyangkanya denganku. Aku pun memeluk tubuh renta beliau. Murid yang dahulu memakai seragam lusuh itu telah berubah menjadi Arsitek terkenal yang akan mendanai pembangunan sekolah lamanya itu. Bahkan, sekarang ia telah membuat ibunya bak seorang ratu tanpa harus berpanas-panasan lagi.

"Hasil manakah yang akan mengkhianati usaha" -Arkhan Adiguna-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar