Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai
Rabu, 04 Januari 2017
Cerpen Lebih Indah dari Firdaus
Aku membuka mataku, mengerjapkan mata berulang kali, hanya hamparan luas padang rumput tanpa sesuatupun yang menghiasi. Aku berdiri di tengah-tengahnya. aku memejamkan mata, berusaha mengumpulkan sejuta memori yang hilang.memori itu terkumpul ibarat sekelebat film. Air mata jatuh dengan tiba-tiba. 'Aku telah mati' batinku meneriaki. 'Ini bukan, yang kamu inginkan' kembali batinku bicara. Aku terduduk dengan berjuta ton beban menghampiri pundakku.
'Jangan munafik! Kau rindu pada keluargamu kan?'. 'Apa kau tega meninggalkan keluargamu di bumi yang telah rapuh ini! Yang bahkan hewan lebih baik daripada manusia dan bahkan dapat dihitung jumlah amirul mukminnya!'
Azma menutup sejenak lembaran buku yang dibacanya, hatinya berdesir. Novel ini membuat hatinya bergetar. Ia tidak membayangkan jika ia berada dalam kebimbangan itu, antara hidup dan mati. Ia menerka apa yang akan tokoh utama ini pilih.
"Azma! Cepat antarkan Azya ke rumah bibi Ilsha!"
"Maaf mi, tapi Azma harus ke rumah ustadzah Zakiyah untuk mengkaji kitab,lag...."
"Sudahlah, temani Azya untuk bertemu bibimu itu, bibimu sangat merindukannya, apa kau tega!"
"Tapi saya harus izin dulu pad..."
"Apa Zakiyah itu ibumu? Tidak kan?"
"Baiklah mi, assalamualaikum!"
Baru beberapa meter dari rumah....
"Ma, turunin aku dong!"
"Kenapa kamu mau turun? Rumah bibi Ilsha masih jauh Azya!"
"Bawel, cepet pinggirin sepedanya, gue mau turun! Gue males ketemu Nyi blorong, mending gue cus ke cafe buat nongkrong!"
"Tapi kamu diminta kesana ya'! Nanti kalo umi tau bisa marah!"
"Ya gampang kalo lo gabilang sama mama, gue gabakal kena damprat, lagian kan lo kan bisa gantiin gue kesana, wajah kita sama!"
"Tap..."
Sesampainya di rumah bibi Ilsha, Azma terpaksa berbohong dan menyamar menjadi Azya.
"Assalamualaikum, bibi!"
"Wa'alaikum salam, Azma?!"
"Maaf bi! Aku Azya"
"Azya? Sejak kapan kamu pake baju kampungan kayak gini!"
"Itu...anu...bajuku basah semua bi! Jadi aku pake bajunya Azma!"
"Oh, sini sayang bibi udah masakin makanan kesukaan kamu, spaghetti dengan saus chesee barbeque! Makan yang banyak ya!"
"I...iya" Azma memakannya dengan perut bergejolak, ia tidak menyukai sama sekali makanan sejenis itu. Tapi ia benar-benar memakannya untuk menghargai bibinya. Sesekali mulutnya mengucapkan istighfar.
'Astagfirullahal'adzim, makanan apa yang disukai Azya ini!' Batinnya.
Dan Azma pun mendapat limpahan kasih sayang walaupun harus menyamar menjadi Azya.
Telepon pun berdering tidak lama setelah itu.
"Wa'alaikumussalam Mai!"
"Azya? Dia udah disini kok! Lagi makan lahap banget!"
"......"
"Iya kamu bisa percaya aku, oh ya Azya penampilannya jadi kampungan banget kalo pake bajunya Azma!"
"......"
"Iya, katanya tadi bajunya basah semua!"
"......"
"Wa'alaikumsalam!"
Sepulang dari rumah bibi Ilsha, Azma bimbang, apakah ia harus ke rumah ustadzah Zakiyah atau pulang ke rumahnya. Iapun memutuskan untuk pergi ke rumah ustadzah Zakiyah terlebih dahulu baru pulang ke rumah.
Ketika sampai di rumahnya, Azma dikejutkan dengan uminya yang sedang berkacak pinggang di depan rumahnya. Dengan takut, ia pun mengucapkan salam dan menyalimi uminya.
"Assalamu'alaikum!"
"Azma! Apa yang kamu lakukan! Kamu menyamar menjadi Azya dan membiarkan Azya pergi kan? Ngaku! Kalo terjadi apa-apa sama Azya, saya nggak akan mengampunimu! Saya menyesal telah membesarkan mu! Dasar anak pembawa sial!"
Azma pun menangis, dan berlari menuju kamarnya.
"Abi....!!!"
"Kenapa abi tinggalin Azma sendirian? Azma ingin ikut abi! umi, bibi Ilsha, Dan Azya benci sama Azma! Azma kangen sama abi dan bang Zafi'!" Azma pun memeluk erat foto sosok yang selama ini menjadi pahlawannya.
Perlakuan semena-mena itu tidak terjadi sekali namun berulang kali semenjak kejadian itu, kejadian yang merenggut nyawa abi tercinta.
Flshback On
10 tahun lalu....
"Abi, Azma mau pelgi ke pantai, terus ke taman bermain, sama ke Bukit yang pernah abi ceritain itu!" Azma kecil merengek sambil duduk di pangkuan abinya.
"Iya sayang, kita akan kabulkan semuanya"
"Besok ya bi!"
"Tapi sayang, abi masih capek habis pulang dari luar kota!" Umminya berusaha menjelaskan.
"Nggak mau pokoknya besok!" Bocah kecil itu merenggut sebal kepada orang tuanya. Ketika Maira hendak membalas perkataan putrinya, Zain menyela.
"Ya, besok ya, sekarang Azma, Azya dan Zafi' siap-siap!"
Hari yang telah direncanakan pun tiba, Zain 'Amr Ghiffari beserta keluarganya berencana mengunjungi bukit terlebih dahulu.
"Bang Zafi' nanti kita petik bunga-bunga di bukit yah!"
"Iya dek, abang punya permainan loh!"
"Apa bang?"
"Rahasia!"
Di tengah perjalanan, menanjak, abinya kehilangan kendali, matanya berkunang-kunang karena memang ia sedang kurang fit saat ini, namun untuk membahagiakan ketiga malaikat kecilnya itu, ia rela mengorbankan waktu istirahatnya. Tanpa ia sadari, mobil itu berbelok melenceng dari yang seharusnya, ia pun panik dan menabrak kan mobilnya pada pohon di pinggir jurang. Mobil itu pun terguling dan ringsek. Zain dinyatakan meninggal di tempat, Maira mendapat luka sedang, Zafi' dan Azya mendapat luka yang parah dan Azma hanya mendapatkan sedikit goresan, karena ia berada dalam pelukan Zafi'. Zafi' dan Azya dinyatakan kritis dan koma untuk waktu yang tidak ditentukan. Selang beberapa hari, Zafi' dinyatakan meninggal karena gagal jantung. Maira pun terpukul atas kejadian itu dan menyalahkan Azma. Jika saja Azma sedikit sabar menunda liburan itu, maka tidak akan terjadi seperti ini. Ia pun setia mendampingi Azya yang membutuhkan donor ginjal. Dan ia dengan sengaja menjauhkan Azma agar tidak terjadi bencana dengan mengirim Azma kerumah Ilsha, kakaknya. Tidak jauh beda dengan Maira, ilsha pun membenci Azma apalagi setelah mengetahui bahwa harta warisan Zain jatuh ke tangan Azma sebagai pewaris utama setelah Zafi' tiada.
Flashback Off
Ia pun tertidur setelah menangis mengingat kejadian itu.
"Azma!!!!! Bangun!!!!" Mendengar suara uminya juga gedoran di pintu, Azma pun terbangun.
"Ada apa mi?"
"Ayo cepat! Azya kecelakaan, dia masuk rumah sakit!"
Mereka pun segera ke rumah sakit.
"Gimana dok kondisi putri saya?"
"Putri ibu pernah mendapatkan operasi besar sebelumnya?" Maira hanya mengangguk lemah.
"Ginjal putri ibu keduanya rusak, kita membutuhkan donor baru untuk itu!"
"saya saja dok! Tolong selamatkan saudara saya! Saya mohon!" Dokter bername tag Syarif itu menatap ragu. Namun, melihat tatapan memohon gadis kecil itu, ia pun menyetujuinya. Namun, ia berfikir mengapa ibu kedua gadis itu hanya diam dan tak mencegahnya. Kemudian ia menarik kesimpulan, mungkin gadis yang bersamanya adalah gadis yang dibenci oleh ibunya.
"Baiklah mari ikut saya!" Maira hanya diam, disisi lain ia harus menyelamatkan Azya, namun ia juga tidak ingin kehilangan Azma.
Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, ternyata ginjalnya cocok untuk didonorkan. Namun, belum tentu Azma bisa seperti semula kondisinya.
Sebelum memasuki ruang operasi, Azma menulis sebuah surat untuk Uminya dan berpesan pada dokternya.
"Dokter, dengarkan pesan saya, apabila operasi ini membuat tubuh saya atau saudari saya makin melemah, maka donorkan kedua ginjal ini untuk saudari saya, donorkan organ saya untuk kehidupan orang lain dok!" Azma menyerahkan tape recorder itu ke sang dokter.
Hati dokter itu bergetar, ia memandangi Azma dan mengelus rambutnya.
"Tapi sayang, kamu tidak akan kuat jika harus hidup dengan satu ginjal!" Azma hanya tersenyum.
"Saya tidak akan bahagia jika keluarga saya bersedih dok!" Sang dokter hanya mengangguk dan memeluk gadis itu.
Operasi pun dimulai, semua berjalan dengan lancar. Kondisi Azma mengkhawatirkan, jantungnya terus melemah. Maira yang mendampingi membacakan doa-doa untuk Azma. Suara panjang nan nyaring tiba-tiba terdengar, garis lurus ditunjukkan oleh monitor jantung Azma. Dokter segera menanganinya. Maira menangis, ia tidak siap jika harus kehilangan Azma.
Aku membuka mataku, mengerjapkan mata berulang kali, hanya hamparan luas padang rumput tanpa sesuatupun yang menghiasi. Aku berdiri di tengah-tengahnya. aku memejamkan mata, berusaha mengumpulkan sejuta memori yang hilang.memori itu terkumpul ibarat sekelebat film. Air mata jatuh dengan tiba-tiba. 'Aku telah mati' batinku meneriaki. 'Ini bukan, yang kamu inginkan' kembali batinku bicara. Aku terduduk dengan berjuta ton beban menghampiri pundakku.
'Jangan munafik! Kau rindu pada keluargamu kan?'. 'Apa kau tega meninggalkan keluargamu di bumi yang ang telah rapuh ini! Yang bahkan hewan lebih baik daripada manusia dan bahkan dapat dihitung jumlah amirul mukminnya!' Kata kata itu kembali terngiang di pikirannya. Apa yang sempat tidak ingin ia bayangkan sekarang terjadi.
"Azma!" Ia pun menoleh ke sembarang arah sampai pada satu titik ia melihat dua orang lelaki tampan dan bercahaya.
"Abi, bang Zafi'!" Mereka bertiga pun berpelukan dengan penuh haru.
"Azma udah ikut sama Abi dan bang Zafi' kan?" Wajah Azma berseri-seri. Mereka pun kompak tersenyum dan menggeleng.
"Belum, tapi sebentar lagi sayang! Ada satu hal yang harus kamu lakukan sebelum benar-benar pergi meninggalkan nama!" Zain mengelus sayang kerudung putrinya dengan tersenyum lembut.
"Apa itu ayah?"
"Firdausmu, jemput dan bawalah!"
"Bagaimana cara mendapatkannya?"
"Kembalilah dulu, maka kau akan tahu! Bersabarlah sayang, pergilah sekarang!" Perlahan kakak dan abinya hilang seiring memudarnya cahaya tersebut. Setelah itu datanglah cahaya lain yang datang lebih menyilaukan.
Azma menggerakkan jarinya seiring dengan suara monitor jantung yang mulai berirama.
"U....mi..!" Suara lemah yang samar itu terdengar oleh Maira.
"Iya sayang, ini umi!"
"A..kkuu...min.ta...ma..af!"
"Enggak sayang!"
"To...long...bac...a...kan... sur....ah....ar..rah...man....!"
Maira mulai membacakan surah ar-rahman, Azma. menitikkan air matanya. Setelah selesai, Azma kembali berucap.
"Ap...hapun....yang..ter..jah...dih..per...ca...ya...lah... a..khu...sah..yangh...kah...liy...yan.." lalu bacaan dua kalimat syahadat meluncur dari mulut Azma, Maira tidak sanggup berkata-kata hanya dapat menangis, kalimat indah itu ibarat meteor yang jatuh tepat pada ulu hatinya. Buah hatinya yang selama ini ia benci sekarang telah tiada. Harusnya ia senang. Namun, hati seorang ibu memang lebih kuat dari hati musuh. Ia mengerang kesakitan, tubuhnya ibarat melayang dan gelap.
Tindakan sesuai wasiat almarhumah dilakukan, jantungnya diberikan pada seorang kakek dan ginjalnya pada saudarinya.
Maira yang telah terbangun mau tidak mau kembali meringis mendengar wasiat almarhumah. Ia menyesal telah menyia-nyiakan seorang malaikat. Ia pun membaca surat yang tertulis khusus untuknya.
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Ummi, maafkan Azma yang telah melukai hati umi selama ini. Maafkan Azma yang telah membuat ummi tertekan dengan membesarkan Azma. Maafkan Azma telah membuat Abi dan bang Zafi' celaka. Ummi, setidaknya untuk terakhir kalinya biarkan Azma membahagiakan ummi dengan menyelamatkan Azya. Azma selalu sayang pada umi dan Azya. Tolong jaga Azya dan sayangi dia mi. Sampai jumpa di Firdaus-Nya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Maira dan Azya menangis melihat nama yang tertera pada nisan marmer ini, di samping kiri makam Zain yang menjadi penengah antara makam Zafi' dan Azma.
Azma Zainurain Tsabita
Binti
. Zain 'Amr Ghiffari
'Ayah, kini aku telah menjemput Firdausku, kata maaf dan kebahagiaan dari ummi dan Azya, itu kan yang ayah maksud? Ginjalku ada di tubuh Azya, yah! Semoga mereka selalu bahagia ya yah!'
'Jika tokoh utama dalam novel yang ku baca memilih untuk kembali pada keluarganya, aku memilih untuk meninggalkannya, jahat ya? Tapi dengan ini, Azya akan selamat dan ummi akan tetap bahagia, aku pun telah mendapat maaf dari ummi, terima kasih, aku sangat bahagia, aku sayang kalian!'
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar