Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai
Kamis, 05 Januari 2017
Cerpen Romance Mengharukan Salam Cinta dari Surga
Salam Cinta dari Surga
Rayyan...
Nama itu belakangan ini menggangguku. Aku tidak mengenalnya, namun dia berkata ingin selalu berada disisiku untuk menjagaku. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan lelaki, apalagi berpacaran. Aku berusaha tidak memperdulikannya, namun justru ia tak memperdulikan penolakanku dan terus mendekatiku. Hari ini, sepulang sekolah, seperti biasanya ia sedang bertengger di atas motornya yang diparkir di depan sekolahku.Mau kabur pun percuma, karena matanya sangat jeli dalam mengenaliku. Lagipula ia akan mengejarnya sampai dapat, seperti saat itu.
"Hey Ai!" Dengan senyum cerahnya ia menyapaku. Ia tampan, sangat tampan malah. Tapi, aku memang tak suka untuk terlalu dekat dengan lelaki, apalagi yang tak ku kenal. Dia mulai berinteraksi denganku satu Minggu yang lalu. Dengan bangganya , ia memarkirkan motornya di depan sekolahku dan menyebutkan namanya dan tujuannya, percayalah ia tidak menyatakan perasaannya padaku ataupun memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku sangat malu saat itu, karena banyak yang memandangku tak menyangka. Esoknya, aku dicecar berbagai pertanyaan oleh kawanku tentang lelaki itu. Dan aku tahu hari itu juga, bahwa ia teman dari teman SMPku. Ia tahu dari temanku itu. Lalu aku memarahinya sampai tuntas.
"Hey, kenapa kesini lagi?" Hari ini aku harus menanyakan motifnya. Anehnya, dia hanya tersenyum.
"Rayyan, sebenarnya apa motif dan tujuanmu memperlakukanku seperti ini?"
"Aku ingin menjagamu"
"Kamu bukan bodyguardku Ray! Jawab yang jelas!" Tanpa sadar aku teriak yang membuat orang di sekelilingku menatapku. Sungguh, saat itu juga aku ingin bumi menelanku. Lalu aku pun pergi dari sana. Rayyan masih saja mengejarku dengan motornya. Hingga sampailah kami di taman dekat sekolahku.
"Jika aku bilang kamu cinta pertamaku, apa kamu akan percaya?" Aku mengernyit, mencoba mencerna kata-katanya. Ketika aku masih berfikir, ia melanjutkan perkataannya.
"Tuh, jadi percuma aku bilang apa motifku" terlihat raut wajah kecewa namun segera digantikan dengan senyum cerahnya. Aku mulai terpukau rupanya.
"Terus, kenapa kamu tidak mengatakan dari awal perasaanmu, lalu maksudmu kamu meminta aku jadi pacarmu? Tapi aku teg-...."
"Kamu dan aku sama-sama nggak mau pacaran, jadi ya nggak usah, tapi namanya perasaan siapa yang tau? Cukup dengan melindungi dan membuatmu bahagia, itu prinsipku" Wajahku memanas mendengar omongannya.
"Yaudah, itu kakakmu aku pulang dulu ya, dahh!" Aku tersenyum dan tanpa sadar melambaikan tanganku ke arahnya.
"Ehemm, duh dicariin kemana-mana taunya kencan sama calon suami" Wajahku kembali memerah, kakakku rupanya sedang tidak sehat.
Sesampainya di rumah, aku lebih terkejut lagi. Karena ada seorang lelaki yang mengirimkan CV-nya kepadaku. Dengan kata lain, ingin mengkhitbahku. Dan ternyata....
Ammar Kahfi Arrayyan
Dia sudah gila...
"Apa maksudnya kamu ngirim CV ke rumah? Kamu gila, kita masih sekolah Ray!" Aku meluapkan amarahku yang sedari kemarin ku tahan.
"Kan katanya kamu nggak mau hubungan yang nggak mengikat, nah sekarang aku ajak ta'arufan aja!" Nada santainya membuatku naik pitam.
"Ya tapi nggak gini juga!"
"Aidzina Amayra Ibrahim, kalo kamu nggak mau ya, tinggal kembalikan, tapi aku gini karena aku serius sama kamu, nggak mau ngajak kamu ke jalan zina, kamu pikirkan lagi, aku akan tunggu!" Ia pun berjalan menjauhiku sesekali memijat pelipisnya. Brukk... dia pingsan beberapa langkah dariku. Aku segera mengajak kakakku yang baru tiba dengan mobilnya untuk membawa Rayyan ke rumah sakit. Beberapa saat setelah kami sampai, keluarganya tiba. Mereka terlihat berbincang oleh dokter. Dan tampak wanita yang kemungkinan itu ibunya mendekatiku.
"Aidzina ya?" Aku hanya menganggukkan kepala gugup.
"Boleh saya bicara berdua?" Kakakku mengisyaratkan aku untuk ikut dengan wanita ini. Aku pun beranjak duduk sedikit jauh dari kakakku.
"Rayyan mengidap penyakit kanker otak, mungkin kedengarannya egois, tapi kamu adalah cinta pertama putra saya, dan saya berharap kamu menerima putra saya, kamu kebahagiaannya, semenjak ada kamu, dia jadi punya semangat hidup, tapi kalo kamu tidak mau ya tidak apa, tapi tolong kamu pikirkan ya!" Aku hanya terdiam karena terkejut. Lelaki itu, ah aku tak percaya.
"Rayyan?" Aku terkejut melihatnya telah berada didepan sekolahku, seperti sebelumnya.
"Halo Ai, lama nggak ketemu!" Baru juga tiga hari.
"Gimana?"
"Baik"
"Apanya?"
"Lah kabar kan?"
"Bukan, jawabannya!" Aku beranjak pergi dari depan sekolah dan menuju taman, ia berjalan mengikutiku.
"Ajarkan aku untuk mengenalmu lebih dekat!" Ucapku sesampainya di taman.
"Hah?"
"Itu kan tujuan ta'aruf?"
Senyum cerah terlukis di wajahnya. Aku pun ikut tersenyum.
"Terima kasih" aku hanya mengangguk.
Sejak saat itu, hari-hari kami dilalui dengan saling mengenal satu sama lain. Kami saling mengingatkan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kebaikan dan ibadah. Kami juga selalu berbagi tentang ilmu agama. Semakin kesini, aku semakin mengenalnya. Dia adalah lelaki yang baik dan sholeh. Orang tuanya adalah pemilik pondok pesantren yang termasyhur di kota ini, bahkan mungkin provinsi. Dia memiliki satu orang kakak yang bernama bang Atha.
"Kamu udah tau tentang penyakitku?" Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Aku pun mengangguk ragu. Ku dengar ia menghela nafas. Hari ini, kami menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di alun-alun kota.
"Aku beda ya? Aku lemah gitu?" Aku menoleh ke arahnya, dia menatap lurus ke depan.
"Kenapa gitu? Kenapa kamu bilang lemah jika kamu mampu melindungiku dari keburukan? Iya kamu beda, lelaki lain lebih suka mempelajari hal-hal yang dapat memikat wanita, tapi kamu mempelajari hal-hal yang dapat memikat Allah! Jika lelaki lain berusaha menunjukkan kemesraan, kamu berusaha berusaha melindungi kehormatan ku sebagai seorang perempuan! Dan banyak alasan lain yang membuat kamu berbeda Ray!" Ia tersenyum tulus padaku. Aku membalasnya dengan senyuman pula.
"Lalu, apa dasar hubungan kita? Kasihan kah?" Aku terhenyak.
"Awalnya iya, karena aku belum mengenalmu, tapi selama ini aku merasa nyaman ada didekatmu, bahagia mengenalmu, dan aku berharap bisa jadi sepertimu, mungkinkah dapat dibilang ini cinta?" dia menatapku takjub. Dia terlihat bahagia. Aku juga bahagia untuknya.
"Aku sangat bahagia mendengarnya, kamu adalah perempuan yang spesial untukku!"
"Ya, dan mulai saat ini kamu harus terbuka terhadap keadaaanmu kepada orang spesialmu ini!" Dia mengangguk semangat. Ya Allah, jangan biarkan waktu ini berlalu, Jangan hilangkan senyum dari wajahnya, dan jangan Kau ambil dia terlalu cepat.
Hari demi hari telah berlalu, kami selalu membagi apa yang menjadi beban kami. Tentang perkembangan kesehatannya, sampai kelelahannya dalam berjuang mengatasi penyakit. Selayaknya pasangan lain, kami juga merayakan anniversary setiap bulannya. Dan hari ini anniversary kami yang ke-11 bulan. Dia mengajakku ke sebuah panti asuhan, untuk merayakan hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan anniversary ini. Kami merayakannya dengan berbagai game, cukup melelahkan tapi aku sangat bahagia. Seolah semua beban terlepas begitu saja.
"Ai, kamu tau? Aku sangat bahagia hari ini, mereka bisa tersenyum bebas walaupun mereka tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua kandungnya lagi, tapi aku merasa begitu durhaka saat aku pernah berfikir untuk menyerah dengan penyakitku ini, sampai adanya rasa cinta yang menyusup untuk perempuan lain selain umi, perempuan yang wajahnya mampu membuat aku bersemangat untuk hidup dan tertawa lepas lagi, tapi manusia punya batas asa Ai, suatu hari aku harus menyerah dan ditaklukan oleh penyakit mengerikan ini," aku menyimak semua perkataannya yang entah mengapa membuatku meneteskan air mata.
"Kenapa nangis? Aku nggak bisa ngelindungi kamu ya? Maaf kalo udah bikin kamu sedih,"
"Enggak tau kenapa, aku takut kamu ninggalin aku"
"Itu karena kamu punya rasa sama aku, kamu harus tau kalo suatu hari hal yang tidak kamu inginkan terjadi, janjilah untuk tidak meratapiku, tetapi berdoalah untukku" aku semakin kalut, kuucapkan istighfar dalam hati agar tidak berpikiran negatif.
Sebulan berlalu, aku merasa sangat bahagia. Hari ini 1st anniversary, aku mengirimkan ucapan tepat jam dua belas malam. Esoknya aku membuka pesan BBM, tak ada respon. Tak seperti biasanya. Telepon masuk, Umi Khafsah meneleponku. Rayyan dirawat di Rumah sakit. Aku bergegas ke rumah sakit.
Dia.....
Terbaring di ICU? Ya Allah....
Aku menangis di pelukan umi Khafsah. Pikiranku kalut. Kemudian terdengar elektrokardiograf yang berbunyi nyaring. Dokter dan beberapa perawat segera memasuki ruangan. Jantungnya sangat lemah. Aku lantas berdoa, dan Alhamdulillah ia tertolong. Ia pun membuka mata, kami semua tersenyum bahagia. Tapi dia sudah tak bisa berbicara. Sakaratul maut, tapi dia masih membela diri agar tetap bertahan demi kami, keluarganya memintaku untuk melepas belenggu kehidupannya.
"Jika kamu tak kuat lagi, pergilah! Kami akan bahagia walaupun sulit rasanya, ini saatnya, jangan melawan takdir!" Suaraku bergetar mengucapkannya. Perlahan, Rayyan benar-benar menutup matanya. Kalimat Tarji' menguar dari mulut kami mengiringi kepergian ruhnya. Suara elektrokardiograf berbunyi nyaring. Luruhlah tubuhku disamping jenazahnya. Selamat tinggal, Ray.
'Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Ketika hidup diujung nafas, ketika cinta tak lagi bersua, Aku dan kamu telah berbeda, berbeda takdir dan dunia, cinta yang telah mempertemukanku denganmu, dan cinta pula yang menghantarkanku menuju ujung nafasku. Terima kasih atas kebahagiaan yang telah kau berikan, maaf ku tak bisa membalas lebih dari ini. Kau telah membuatku sadar, aku tidak berbeda dan juga tak lemah karena dikalahkan penyakit. Kau membuatku sadar aku layak merasakan cinta seorang bidadari surga. Aku telah berjanji menjagamu, namun aku harus melanggarnya. Sekali lagi terima kasih, jangan menangisi kepergianku. Aidzina izinkan aku untuk mencintaimu dari alam yang berbeda. Terima kasih untuk kebahagiaannya satu tahun ini. Temukanlah imammu kelak, semoga dia bisa menjaga dan membahagiakanmu lebih dari aku.
Selalu ingat apa yang pernah kita pelajari bersama. Semoga kelak kita akan bertemu di surganya Allah. Salam dari surga Allah untuk kamu.
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.'
Ku lipat kembali kertas yang adalah surat terakhir Rayyan. Ku biarkan angin meniup kerudungku dan menerpa wajahku. Aku sudah berjanji untuk tak menangis karenanya. Tapi aku tak bisa, air mata kembali jatuh setiap mengenangnya. Cinta tulus Rayyan, telah membuat Aidzina merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang luar biasa.
"Rayyan, kau hadir dalam hidupku, indah yang kurasakan, tapi kini lihatlah, kepedihan yang nyata atas diriku melepaskanmu, tapi tak apa demi Rabb-ku, selamat jalan kawan sejati, bahagialah disana"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar